Rifan Aditya | Chyntia Sami Bhayangkara
Selasa, 02 Februari 2021 | 07:42 WIB
Pegiat media sosial, Permadi Arya alias Abu Janda, usai menjalani pemeriksaan Direktorat Tindak Pidana Siber (Dit Tipidsiber) Bareskrim Polri terkait kasus ujaran kebencian 'Islam Arogan', Senin (1/2/2021) malam. [Suara.com/Muhammad Yasir]

BeritaHits.id - Kasus pegiat media sosial Permadi Arya atau Abu Janda menyebut 'Islam arogan' berbuntut panjang. Gegara kasus tersebut, putri Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid dan intelektual Nahdlatul Ulama (NU), Akhmad Sahal atau Gus Sahal terlibat perdebatan di media sosial.

Awalnya, Gus Sahal melalui akun Twitter @sahal_as mengomentari pernyataan Alissa yang menegaskan Abu Janda bukan bagian dari poros NU.

Gus Sahal mengaku tak setuju dengan pernyataan tersebut. Sebab, secarakeanggotaan Abu Janda merupakan anggota resmi NU.

Oleh karenanya, tak seharusnya Alissa membantah jika Abu Janda bukanlah bagian dari NU.

"Saya enggak setuju dengan mba @alissawahid. Abu Janda @permadiaktivis1 itu kader banser yang resmi. Otomatis dia juga resmi anggota NU, bukan mengaku-ngaku NU," kata Gus Sahal seperti dikutip Suara.com, Selasa (2/2/2021).

Terkait dengan sikap Abu Janda yang tak mencerminkan aswaja NU, Gus Sahal meminta agar Banser bisa memberikan peringatan.

"Bahwa AJ ndlodok, gaya ofensifnya enggak sesuai dengan aswaja NU, Banser mesti menjewrnya. DIa harus ngaji lagi. Tapi jangan tak diakui sebagai NU," ujar Gus Sahal.

Debat Alissa Wahid dan Gus Sahal soal Abu Janda (Twitter)

Cuitan Gus Sahal tersebut langsung direspons oleh Alissa. Alissa menjelaskan duduk persoalan terkait pernyataannya yang menyebut Abu Janda bukan poros NU.

"Kalau mas Sahal baca lengkap, saya menyebutkan Permadi bukan bagian dari poros NU seperti pesantren atau ulama. Permadi adalah kader Ansor, ia setuju. Apakah dia berasal dari poros NU? tidak," tegas Alissa.

Baca Juga: Soal Islam Agama Arogan, Cak Nun Beri Respons Telak: Tidak Masuk Akal

Alissa mengaku seringkali mendapatkan pertanyaan terkait apakah sikap Abu Janda merupakan representasi NU. Dengan tegas, Alissa menjawab tidak.

"Saya saja enggak berani merasa representasi NU. Permadi jauh gitu kok dari prinsip Aswaja NU. Saya keberatan kalau dengan sikap seperti itu dia dianggap menjadi representasi NU," ungkapnya.

Penjelasan Alissa kembali ditanggapi oleh Gus Sahal. Gus Sahal mengaku hanya mau mempertegas bahwa Abu Janda merupakan warga NU.

"Kalau poros NU yang dimaksudkan mbak @alissawahid itu pesantren dan ulama, @permadiaktivis1 memang jelas bukan dari poros tersebut. Mbak Lissa benar. Tapi saya hanya ingin agar pembaca tulisan tersebut enggak salah paham. Meski AJ bukan dari poros NU, ia tetap sah sebagai warga Nahdliyin," ungkap Gus Sahal.

Debat Alissa Wahid dan Gus Sahal soal Abu Janda (Twitter)

Jawaban Gus Sahal kembali dibalas oleh Alissa. Ia memperjelas pernyataannya soal Abu Janda sebagai representasi NU.

"Lha kan disitu juga sudah saya sebutkan, kita tidak bisa menolak orang menyebut dirinya sebagai orang NU. Tetapi untuk mengukur seseorang jadi representasi NU, ya harus pakai tolok ukur prinsip Aswaja NU," tegas Alissa.

"Noted, matur nuwun klarifikasinya mbak @alissawahid," balas Gus Sahal.

Klarifikasi Abu Janda

Dilaporkan Suara.com akhir pekan lalu, Abu Janda menyatakan tulisannya "Islam Arogan" di Twitter yang ketika itu untuk menanggapi pernyataan Tengku Zulkarnain, telah mengalami pemotongan sehingga keluar dari konteks yang semula dia maksudkan untuk kritik kepada kalangan tertentu.

"Izinkan saja jelaskan kesalahpahaman atas tulisan saya di Twitter, komentar saya diviralkan dipotong tanpa melihat konteksnya seolah itu pernyataan mandiri," kata Abu Janda lewat video yang dikutip pada Sabtu, 30 Januari 2021.

"Jadi karena itulah keluar kata arogan dari tulisan saya, karena jawab tweet Ustaz Tengku Zulkarnain soal minoritas di Indonesia arogan."

Disebutkan pula, istilah Islam arogan yang diucapkan tersebut merujuk pada kelompok Islam tertentu yang disebutnya rajin mengafirkan tradisi budaya lokal nusantara.

"Komentar itu merupakan cara saya sebagai seorang muslim dalam konteks otokritik perihal masalah internal Islam saat ini, makanya saya tulis Islam agama pendatang dari Arab," kata dia.

Kelompok Islam yang dimaksudkan Abu Janda bukan kelompok yang berasal dari Indonesia, melainkan "Islam transnasional seperti salafi wahabi, yang memang pertama datang dari Arab dan kedua arogan ke budaya lokal, haramkan sedekah laut dan sebagainya."

Abu Janda menegaskan lagi frasa Islam arogan bukan ditujukan untuk NU dan Muhammadiyah.

"Jadi bukan Islam nusantara seperti NU dan Muhammadiyah, yang saya maksud ialah Islam pendatang dari Arab yakni Islam transnasional atau salafi wahabi. Bukan generalisasi semua Islam," kata Abu Janda.

Setelah terjadi kegaduhan selama berhari-hari, Abu Janda yang selama ini sering mengkritik secara satire itu meminta maaf kepada para tokoh dan ulama.

"Semoga bisa menjelaskan mohon maaf jika ada kesalahpahaman maklum jempol menulis saat debat panas jadi suka keluar nggak sinkron. Saya mengucapkan matur nuwun (terima kasih). Mohon kyai, gus, ustaz mohon arahannya terus, saya pamit," kata dia.

Abu Janda juga menyangkal telah bersikap rasis kepada Natalius Pigai lewat istilah "evolusi."

"Evolusi itu berkembang, pikiran lu udah berkembang belum? Akhlak lu udah berkembang belum? Kan evolusi akhlak bisa, evolusi pikiran bisa," kata Abu Janda kepada Suara.com, Jumat (29/1/2021).

Abu Janda menyebutkan definisi evolusi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berbeda dengan teori Darwin.

Abu Janda yakin KNPI melaporkannya ke polisi atas dasar dendam politik.

"Saya yakin ini ada dendam politik karena ini ada framing, itu rasisnya dimana? Kata evolusi itu? Kecuali kalau aku bawa-bawa ras, atau pakai nama hewan, kan ini engga. Cuma kata evolusi tok," katanya.

"Aku kan sebagai tokoh yang terkenal selalu bersebrangan dengan FPI. Jelas kalau menurutku ada dendam politik di situ. Haris Pertama ini mungkin saat ini sakit hati FPI dibubarin dan Rizieq dipenjara. Jadi balas dendam ingin saya dipenjara juga."

Load More