BeritaHits.id - Kisah tentang seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tidak pulang selama 15 tahun seusai melakukan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Waimital, Pulau Seram, Maluku, kembali menghebohkan jagat dunia maya.
Seakan tak lekang oleh waktu, kisah mahasiswa kelahiran Aceh itu disorot karena perjuangannya menyentuh hati. Berbeda dari teman-teman lainnya, dia memilih melanjutkan mengabdi demi masyarakat sampai belasan tahun lamanya.
Adalah Muhammad Kasim Arifin, cerita tentang pria kelahiran tahun 1938 itu kembali mencuat di Facebook usai dibagikan oleh pemilik akun Baca Biar Tahu pada Sabtu (30/1/2021) lalu.
Diceritakan bahwa semua bermula saat Kasim, panggilan akrabnya, dikerahkan menuju Waimintal, Pulau Seram, Maluku, ada 1964 untuk mengabdi di tengah masyarakat. Kala itu, dia dan kawan-kawan disebar untuk mengenalkan program Panca Usaha Tani.
"Dia mendatangi daerah terpencil itu sebab didorong hasrat untuk membumikan semua pengetahuannya. Di Waimintal, dia bertemu keluarga petani miskin yang datang melalui program transmigrasi," tulis akun itu.
Diceritakan pula, selama menjadi warga KKN di sana, Kasim sehari-hari harus berjalan sejauh 20 kilometer untuk mengolah lahan pertanian bersama para petani.
Tidak sekadar itu saja, Kasim juga disebut-sebut memajukan desa dengan membuka akses jalan, membangun lahan pertanian baru, dan membangkitkan semangat bergotong royong warga desa.
Selama 15 tahun mengabdi, Kasim dikabarkan mendapat julukan Atua atau orang yang dihormati di Waimital. Dia mendapat julukan itu karena dirasa mementingkan kehidupan para petani daripada dirinya sendiri.
"Seharusnya dia di Waimital selama tiga bulan, ia merasa tanggungjawabnya belum selesai bahkan saat teman-temannya pulang, diwisuda hingga lulus dan menjadi pejabat, dia tetap setia menjadi petani selama 15 tahun" tambah akun itu.
Baca Juga: Viral Anak SD Nyanyi Sindir Presiden: Orang Kaya Dapat Bantuan, Kami Tidak
Diinformasikan pula, rektor IPB kala itu serta orang tua Kasim sempat memintanya pulang. Namun, hal itu tak kunjung direspons. Namun, seusai dijemput kawannya, Kasim terpaksa kembali ke Jakarta, lalu pulang ke kampus.
Kisah Kasim selama di Waimital direkam oleh kawan-kawannya. Tidak berhenti sampai di situ, kisah Kasim yang pada 1982 mendapat penghargaan Kalpataru juga diabadikan dalam buku berjudul "Seorang Lelaki di Waimital" karangan Hanna Rambe.
Kabar terakhir, Kasim menjadi Dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sejak 1994. Dia dikenal sebagai aktivis lingkungan sampai akhir hayatnya.
Diabadikan Sebagai Puisi
Pada 1979, salah seorang rekannya yang juga penyair, Taufiq Ismail membuat syair puisi mengharukan soal Kasim. Taufiq Ismail membuat puisi sepanjang empat bait.
Salah satu baitnya berbunyi:
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Perjanjian Berdarah Gunung Kawi: Harga Mahal di Balik Kekayaan Instan Teh Sarah
-
Kisah Kelam Teh Sarah Terjebak Pesugihan Gunung Kawi
-
Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Garut Hari Ini, Berikut Info BMKG
-
Hak Jawab Warga Manglongsari soal Berita 'Hidup Ditemani Anjing, Penderita Kanker di Wonosobo Diamuk Warga'
-
Tentara Israel Ancam Mau Penjarakan Warganet Indonesia: Interpol Bakal Bertindak!