Reza Gunadha | Hernawan
Selasa, 02 Februari 2021 | 14:13 WIB
Cek Fakta Jokowi Jual Negara dengan Rekrut PNS Khusus Etnis China dan Non Muslim (Turnbackhoax.id).

BeritaHits.id - Beredar di media sosial, klaim yang menyebut Presiden Jokowi menginstruksikan Dirjen Imigrasi untuk merekrut PNS Baru dengan mengutamakan etnis China dan Non Muslim.

Dalam klaim itu disebutkan bahwa Dirjen Imigrasi ditempatkan di pos-pos guna memuluskan kedatangan China RRC yang menggunakan ID WNI.

Berikut narasi yang dibagikan:

"HANCUR SUDAH.!! JOKOWI MENJUAL INDONESIA

Jokowi instruksikan Dirjen Imigrasi Rekrut PNS Baru Dengan Mengutamakan Etnis China dan Non Muslim. Ditempatkan DI Pos Pos Guna Memuluskan Kedatangan China RRC Yang Menggunakan ID WNI (e-KTP) Aspal Dengan Atau Tanpa Pasport... dst".

Lantas benarkah klaim tersebut?

Cek Fakta Jokowi Jual Negara dengan Rekrut PNS Khusus Etnis China dan Non Muslim (Turnbackhoax.id).

PENJELASAN

Berdasarkan penelusuran turnbackhoax.id -- Jaringan Suara.com, klaim yang menyebut Jokowi menjual negara dengan merekrut PNS khusus Etnis China dan Non Muslim itu adalah hoaks yang berulang dan pernah tersebar pada 2018 dan 2019.

Namun, setelah dilakukan penelusuran, nyatanya informasi tersebut tidak benar.

Baca Juga: Soal 'Islam Arogan' Abu Janda, Cak Nun Wanti-wanti Jangan Asal Ngomong

Informasi itu telah diklarifikasi melalui situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika kominfo.go.id dijelaskan bahwa sesuai Ayat (1) Pasal 23 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2017.

Pada prinsipnya setiap Warga Negara Indonesia (WNI) memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi PNS selama memenuhi persyaratan yang telah ditentukan sehingga semua Warga Negara Indonesia sama perlakuannya.

Syarat dasar untuk melamar menjadi CPNS juga bisa dilihat di situs Badan Kepegawaian Negara (BKN), bkn.go.id. Dalam situs itu disebut 9 syarat untuk mendaftar sebagai CPNS.

Syarat yang paling utama adalah para pelamar harus Warga Negara Indonesia (WNI).

KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa klaim yang beredar di Facebook tersebut tidak benar.

Load More