BIN: Generasi Milenial Tak Berpikir Kritis Rentan Terpapar Radikalisme

Survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut sebanyak 85 persen generasi muda rentan terpapar paham radikalisme karena cenderung tidak berpikir kritis.

Dany Garjito | Chyntia Sami Bhayangkara
Jum'at, 02 April 2021 | 14:13 WIB
BIN: Generasi Milenial Tak Berpikir Kritis Rentan Terpapar Radikalisme
Ilustrasi teroris. (Suara.com/Ema Rohimah)

BeritaHits.id - Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto menyebut generasi milenial menjadi sasaran empuk yang rentan terpapar paham-paham radikalisme.

Terlebih, para generasi milenial yang tidak berpikir secara kritis akan sangat mudah disusupi dengan paham radikalisme.

Hal itu disampaikan oleh Wawan saat menjadi pembicara di acara webinar 'Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial' yang disiarkan di kanal YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama.

"Media sosial disinyalir telah menjadi inkubator radikalisme khususnya bagi generasi muda," kata Wawan seperti dikutip Beritahits.id, Jumat (2/4/2021).

Baca Juga:Ibunda Menangis di Depan Kuburan Teroris Zakiah Aini: Allah Memanggilmu

Wawan menjelaskan, rentang usia generasi muda yang menjadi incaran penyebaran paham radikal adalah antara usia 17 hingga 24 tahun.

"Ini yang menjadi target utama, selebihnya di atas ini second liner," ucapnya.

Fakta tersebut juga diperkuat dengan survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut sebanyak 85 persen generasi muda rentan terpapar paham radikalisme karena cenderung tidak berpikir kritis.

"Generasi milenial cenderung menelan mentah, tidak melakukan check, recheck dan crosscheck dan sikap intoleran ini biasanya muncul pada generasi yang tidak kritis dalam berpikir," ungkapnya.

Wawan menjelaskan, generasi muda berada dalam zona usia rawan karena mereka masih melakukan pencarian jatidiri dan eksistensi.

Baca Juga:Terobos Masjidil Haram, Pria Bersenjata Tajam Teriak Dukung Teroris

Terlebih paham-paham radikalisme yang disebarkan seringkali dibumbui dengan narasi heroisme.

"Kemudahan-kemudahan mengakses internet, dan banyaknya waktu luang. Kemudian konten dan narasi radikal kemudian disebar dengan mudah dan diakses oleh generasi muda," tuturnya.

Bahkan, kehadiran penyebar paham radikalisme melalui media sosial itu juga dapat bersinggungan secara langsung dengan targetnya melalui dunia maya.

Para target bisa melakukan interaksi tanya jawab langsung dengan mereka sehingga semakin memudahkan proses rekrutmen pada generasi muda.

Oleh karenanya, Wawan mengaku kini BIN terus berupaya meningkatkan literasi publik dan menggencarkan patroli siber.

"Kita selalu memberika literasi dan patroli siber kita, menyampaikan untuk untuk berpikir menanyakan kepada mereka-mereka yang berkompeten, sumber-sumber yang bisa dipercaya dan sahih," tukasnya.

Simak video selengkapnya di sini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak