Prof. Zubairi menyebut para ahli sangat mencermati fenomena tersebut karena kejadiannya (penularan yang cepat) tak hanya berlangsung satu kali.
Pejabat kesehatan Australia pun mengatakan bahwa penularan tak lagi butuh waktu hingga 15 menit namun dimungkinkan dalam hitungan detik.
"Makanya pejabat kesehatan Australia mengingatkan bahwa penularan virus tidak lagi butuh waktu hingga 15 menit, tapi dimungkinkan bisa dalam hitungan detik," tulisnya lagi.
Virus bertahan di udara cukup lama
Baca Juga:Tegaskan Pernyataan Presiden, Gus Halim: PPKM Mikro Ampuh Hentikan Penularan Covid-19
Lebih lanjut, ia menjelaskan bagaimana penularan atau transmisi bisa terjadi dalam kontak yang sangat singkat. Berdasarkan rekaman CCTV tentang momen transmisi, virus disebut dapat bertahan di udara dalam jangka waku cukup lama.
"Ahli virologi Universitas Griffith Lara Herrero mengatakan, dalam momen transmisi yang terekam di CCTV itu, virus didapati bertahan di udara cukup lama—sehingga seseorang bisa menghirupnya dan terinfeksi," tulisnya.
"Transmisi kontak sekilas ini telah didukung oleh pernyataan-pernyataan beberapa tokoh. Termasuk Menteri Kesehatan New South Wales Brad Hazzard dan juga ahli epidemiologi dunia Eric Feigl-Ding," lanjutnya.
Penyebab kenaikan kasus secara global
Terakhir, Prof Zubairi menyabut bahwa varian Delta merupakan penyebab lonjakan kasus di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Baca Juga:Covid-19 Mengganas, Permintaan Peti Jenazah Meningkat
Kabar baiknya, sebagian besar vaksin yang digunakan saat ini masih mampu melawan virus varian Delta.