"Padahal mereka sangat terlatih untuk melakukan penelusuran rekening, dan forensik digital. Idealnya cek background itu dilakukan sejak awal sebelum melakukan penyerahan simbolis," ucap Ridlwan.
Selain itu, pihak intelijen seharusnya juga bisa mengungkap siapa sosok Akidi Tio secara cepat. Termasuk harta kekayaannya dan kebenaran uang sumbangan senilai Rp 2 Triliun.
Sebab, intelijen sejauh ini memiliki perangkat-perangkat kemampuan penelusuran, terutama yang berkaitan dengan intelijen tax perpajakan. Di bawah 3 sub direktorat, mereka bisa dengan cepat mengatasi permasalahan forensik digital sampai money laundry (pencucian uang).
Kendati demikian, Ridlwan memahami wajar jika pemerintah kecolongan. Ia menyebut kondisi psikologis para pimpinan di masa pandemi menjadi gelap mata.
Baca Juga:Terungkap! Jumlah Uang Tidak Sampai Rp 2 Triliun, Anak Akidi Tio Sesak Napas
Apalagi, ketika tiba-tiba disodori dana besar oleh seorang dermawan. Pemerintah dengan mudah percaya tanpa mengecek latar belakang penyumbang terlebih dahulu.
"Sebetulnya prosesnya tidak lama, apalagi kemampuan intelijen perpajakan. Tetapi proses itu saya yakini tidak dilakukan," ungkap Ridlwan.
"Karena nominalnya yang kemudian membuat orang menjadi gelap mata dalam tanda petik melupakan prosesnya. Saya kira wajar-wajar saja jadi kecolongan," pungkasnya.
Beredar Bilyet Giro Rp 2 Triliun Milik Anak Akidi Tio, Barang Bukti Polisi?
Sebuah foto memperlihatkan bilyet giro bank Mandiri dengan nilai Rp 2 Triliun beredar di antar group WhatsApp masyarakat dan media sosial. Bilyet giro ini tertulis ada penyerahan dana dari anak Akidi Tio, Tio Heryanti kepada seseorang yang bernama Heni Kresnowati.
Baca Juga:Batal Diperiksa karena Sesak Napas, Anak Akidi Tio Berstatus Saksi
Diketahui Heni Kresnowati ialah nama seorang Kabid Keuangan Polda Sumatera Selatan. Banyak pihak menduga ini foto bilyet giro ini ialah barang bukti polisi.