Satu jam berikutnya, Santi mengabari kondisi ibunya memburuk dan sudah tidak ada respons.
"Jam 08.58 WIB, Santi WhatsApp lagi, sang mama blue call ke 5. Udah nggak respons, hanya jantungnya masih berdetak," beber Susy.
Sebagai teman, Susy langung memberikan nasihat ke Santi untuk bersiap-siap menghadapi hal buruk. Santi hanya bisa menangis.
"Mirip bapak saya, San. Udah Santi ikhlaskan aja biar mama gampang jalannya. Santi siapkan diri dan jaga adik-adik kalau sampai terjadi hal yang terburuk. Supaya kalau mama harus pulang, anak-anak bisa lebih ikhlas," cerita Susy.
Baca Juga:Covid-19 Renggut Nyawa 120 Guru di Kaltim, Benua Etam Hadapi Krisis Tenaga Pendidik
Santi ternyata berada di Jepang dan tidak bisa menemani ibunya. Selama ini, ia memonitor ibunya dengan menghubungi perawat yang berjaga.
"Santi menangis sampai sembab, ingin menemani sang mama tapi kondisi nggak memungkinkan. Dari Jepang sana, Santi monitor sang mama dari WA perawat," tulis Susy.
Ibu menghembuskan napas yang terakhir pukul 09.50 WIB. Disinilah, Santi mengungkap pengorbanan keluarganya yang merelakan ICU untuk pasien lainnya saat ibunya masih hidup.
"Kemarin pas mama mau pindah ICU, ada pasien juga yang lagi antri. Sebetulnya mama yang dapat giliran duluan, tapi aku lihat chance mama udah nggak sampai 10 persen," cerita Santi.
"Mama hampir gak ada respons. Aku bilang ke adik laki aku yang jagain mama, kita relain bed di ICU buat yang punya chance lebih besar. Dia nangis, anak laki kesayangan dan paling sayang mama," sambungnya.
Baca Juga:WHO Desak Pemerintah AS Ungkap Bukti Asal-usul Virus Corona

Melihat harapan hidup ibunya hanya 10 persen, Santi memilih memberikan ruang ICU ke pasien lain dengan harapan hidup yang lebih tinggi. Ia juga memberikan pengertian ke adiknya untuk merelakan sang ibu.