Kasus Orang Tua Bunuh Anak karena Nakal, Sosiolog: Rasionalitasnya Rendah

"Mengusir genderuwo dengan cara merendam kepala anak sampai pingsan itu jelas bukan tindakan wajar," kata Soeprapto.

Dany Garjito | Aprilo Ade Wismoyo
Rabu, 19 Mei 2021 | 12:31 WIB
Kasus Orang Tua Bunuh Anak karena Nakal, Sosiolog: Rasionalitasnya Rendah
Kasus pembunuhan anak di Temanggung (facebook.com/ErisRiswandi)

BeritaHits.id - Kasus pembunuhan Aisyah, anak berusia 7 tahun asal dusun Paponan, Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung sedang menjadi sorotan publik.

Di samping menghilangkan nyawa seorang anak, kasus tersebut juga memperlihatkan sebuah dampak negatif dari praktek perdukunan.

Seorang anak kecil yang dianggap nakal dijadikan korban dalam prkatik pengusiran sosok genderuwo yang diyakini beberapa orang ada di tubuh anak tersebut sehingga menjadi nakal.

Sayangnya, tindakan menenggelamkan Aisyah ke bak berisi air justru kebablasan dan menyebabkan gadis kecil itu kehilangan nyawa. Jasadnya ditemukan disimpan di sebuah kamar di rumah orang tuanya pada Minggu (16/5/2021).

Baca Juga:Dugaan Pembunuhan Bocah di Temanggung, Orang Tua Sembunyikan Kondisi Korban

Kecerdasan emosional dan rasionalitas yang rendah

Drs. Soeprapto, S.U, seorang Sosiolog Kriminalitas dari Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu sosial dan Politik UGM menilai setidaknya ada empat faktor yang membuat beberapa orang tua melakukan tindakan yang berakibat fatal bagi anaknya sendiri.

"Saat ini banyak anak menjadi korban ulah orang tua karena beberapa sebab. Pertama, banyak orang tua yang tidak faham betul 4 fungsi keluarga (edukasi, perlindungan, ekonomi, dan reproduksi). Kedua, tidak memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, ketiga, tingkat rasionalitasnya rendah dan yang keempat, tingkat maturity-nya rendah," tutur Soeprapto dalam keterangan tertulisnya pada BeritaHits.id, Rabu (19/5/2021).

Soeprapto menambahkan, seseorang dengan kecerdasan emosi dan rasionalitas yang rendah akan mudah menjastifikasi ke arah mistis apabila menemukan hal yang susah teratasi, seperti misalnya kenakalan anak.

"Akibatnya ketika ada hal yang tidak teratasi dengan mudah seperti kenakalan anak, sakit yang belum diketemukan, maka larinya jika tidak menjastifikasi gangguan makhluk halus maka arahnya adalah santet," lanjutnya.

Baca Juga:Bocah di Temanggung Sengaja Ditenggelamkan, Orang Tua Korban Jadi Tersangka

Dijelaskan pula, tingkat maturity (kedewasaan) yang rendah juga menjadi celah untuk masuknya pengaruh pihak luar yang bisa membahayakan anggota keluarga.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak