Putri Bungsu Gus Dur dan Kaum LGBT Sepakat Isu Keberagaman Lebih Urgen daripada Keseragaman di Indonesia

Perbedaan individu bisa meliputi berbagai bidang, seperti etnis, jenis kelamin, orientasi seksual, keyakinan agama, politik, dan ideologi lainnya.

Ruth Meliana Dwi Indriani | Evi Nur Afiah
Jum'at, 20 Mei 2022 | 20:45 WIB
Putri Bungsu Gus Dur dan Kaum LGBT Sepakat Isu Keberagaman Lebih Urgen daripada Keseragaman di Indonesia
Putri bungsu mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid dalam diskusi peluncuran platform Rona di Gedung Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Kota bandung, Jumat (20/5/2022). [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

Hal lain juga diungkapkan oleh Jennifer Odelia seorang pegiat media sosial tentang keberagaman. Suatu momen, Jenni yang menganut agama Nasrani ini bertemu dengan sejumlah anak sekolah muslim. Mereka menanyakan kalung salib yang dipakai saat itu.

"Kak, kok Tuhan disalib? Saya kasih tahu mereka kalau Indonesia itu enggak hanya muslim, tapi ada yang lain yang berbeda dengan mereka. Jadi maksud saya, tugas kita bersama memperkenalkan keberagaman sejak dini, karena kalau enggak kasihan mereka," kata dia.

Sementara bagi Rico Tude yang merupakan anak muda peduli keberagaman menyatakan, keragaman yang menjadi persoalan ini harus diperbaiki oleh bangsa. Yang paling dasar dimulai dari sistem pendidikan di Indonesia.

"Saya melihat jeleknya anak muda zaman sekarang dalam melihat perbedaan," ungkap Riko.

Baca Juga:Putri Gus Dur Berharap Platform Rona Jadi Ruang untuk Semua, Apa Pun Identitanya

Sedangkan bagi Inayah Wahid, aktivis HAM, keberagaman yang berujung perdebatan merupakan konsekuensi logis produk pendidikan Indonesia yang kurang memaknai keragaman budaya dalam kehidupan sehari-hari. 

"Jadi edukasi tentang keberagaman sejak dini itu memang penting. Kalau enggak masih banyak kelompok minoritas yang dipersekusi. Kita harus menerima bahwa keberagaman itu ada dan tidak boleh dari masing-masing dari kita itu sama," ucap putri bungsu Presiden ke-4 Gus Dur tersebut.

Mereka sepakat bahwa keberagaman lebih humanis di Indonesia dari pada keseragaman.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak