Tak hanya itu, Heri juga sempat mengeluhkan mengenai prajurit yang jujur dan bersuara cenderung mendapatkan hukuman dari atasannya.
"Dia dari sudut pandang user 'aduh kita enggak bisa operasi'. Dia cerita 'lu tulis yang sebenarnya di dalam kita enggak bisa bersuara. Persepsi dia ketika bersuara ada atasan yang punya kepentingan, lalu teman yang bersuara diajukan dihukum. Saya mengerti, itu bukan hal luar biasa, itu sering terjadi di TNI," tutur Edna.
Simak video selengkapnya di sini.
Profil Letkol Laut Heri Oktavian
Baca Juga:Sambil Terisak, Ibu Serda Pandu yang Gugur di KRI Nanggala-402 Memohon Ini
Letkol Heri Oktavian, sebagai Komandan KRI Nanggala 402 bersama dengan tiga Arsenal dan 49 awak kapal lainnya dinyatakan gugur dalam tugas setelah kapal selam yang dikomandoinya tersebut dinyatakan hilang kontak saat latihan penembakan torpedo pada hari Rabu (21/4/2021) dini hari
Sebelum menjabat sebagai Komandan KRI Nanggala 402 sejak April 2020, Letkol Laut Heri Oktavian sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Komandan Sekolah Awal Kapal Selam atau Dansekasel di Pusat Pendidikan Khusus atau Pusdiksus Komando Pendidikan Operasi Laut pada bulan November 2019, menggantikan pejabat Plt Mayor Laut Agus Pujiono.
Jabatan Dansekasel yang dijabat oleh Heri Oktavian hanya berlangsung selama sekitar 1 tahun. Hingga akhirnya pada tanggal 3 April 2020, Mayor Heri Oktavian menyerahkan tongkat komando Dansekasel kepada Mayor Laut (P) Fufuk Ariek Akhiranto.
Mayor Heri Oktavian kemudian naik pangkat menjadi Letkol Laut dan menduduki jabatan barunya sebagai Komandan KRI Nanggala 402.
Kronologi Tenggelamnya KRI Nanggala 402
Baca Juga:Tak Bisa Tidur, Istri Kru KRI Nanggala-402 Masih Berharap Suami Pulang
Kapal selam terakhir kali terpantau berada di 95 kilometer sebelah utara dari Pulau Bali, kemudian pada Sabtu, (24/4/2021) TNI AL mengisyaratkan kapal tersebut tenggelam. Keesokan harinya, hari Minggu (25/4/2021) kapal selam KRI Nanggala 402 terdeteksi berada di kedalaman air 838 meter dan dalam keadaan terbelah tiga.