Abdul menjelaskan, tidak ada yang bisa memprediksi secara tepat kapan bencana besar akan datang. Sebagai contoh adalah bencana alam gempa bumi yang hingga sekarang, kemunculannya masih tidak dapat diprediksi.
Hal ini disebabkan karena belum ada alat bisa memprediksi secara tepat kapan, di mana, dan seberapa besar bencana gempa akan terjadi di suatu daerah.
Pendapat serupa juga disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Andi Jemma Masamba, Winarno Nurdianto. Ia mengomentari mengenai prediksi bencana besar yang terjadi di wilayah Palopo.
Sejauh ini, pihaknya hanya memberi peringatan waspada terkait dampak La Nina. Peringatan ini berlaku mulai bulan November 2021 sampai Februari 2022.
Baca Juga:BPBD Ingatkan Ancaman Bencana Longsor Terpa Permukiman 45 Desa di Trenggalek
“BMKG melalui berbagai media sudah menyampaikan bahwa waspada dampak La Nina, dari bulan November 2021 hingga Februari 2022,” ujar Winarno.
Walau begitu, Winarno menyebut tidak ada peringatan khusus untuk meninggalkan wilayah Palopo karena cuaca atau prediksi bencana iklim.
Ia menjelaskan La Nina merupakan fenomena ketika suhu muka laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal.
Akibatnya, udara terasa lebih dingin dan curah hujan lebih tinggi. La Nina biasanya berisiko meningkatkan bencana hidrometorologi, seperti banjir, banjir bandnag, longsor, pohon tumbang, dan lain-lain.
“Wilayah Luwu Raya termasuk Kota Palopo memiliki profil iklim Non-ZOM (Non Zona Musim), artinya pada saat musim hujan dengan musim kemarau, tidak memiliki perbedaan yang jelas, maksudnya kota Palopo dengan intensitas curah hujan tinggi sepanjang tahun,” jelas Winarno.
Baca Juga:CEK FAKTA: Billie Eilish Lahir di Nganjuk, Benarkah?
KESIMPULAN