Ia menuturkan bahwa sekecil apapun yang dikorupsikan PDIP itu menandakan adanya penghinaan terhadap rakyat.
"Saya enggak persoalkan nilainya, bahkan 100 pun dikorupsi PDIP itu artinya menghina rakyat, karena dia partai rakyat. Jadi sebetulnya pada PDIP kuantitas tak berlaku, yang berlaku kualitas korupsinya. Artinya si tokoh PDIP ini waktu dia memutuskan untuk korupsi dia mengabaikan seluruh beban moral yang diberikan rakyat padanya," tegasnya.
"Itu kan menghina peradaban. Jadi secara moral itu yang disebut sebagai penghianatan moral tertinggi, artinya di dalam pikiran dia memang sudah koruptif mau seratus ribu segala macam, jadi persoalannya ada di situ," lanjutnya.
Selain kasus korupsi paket bansos, Hersubeno Arief turut menjelaskan bahwa telah terjadi kasus korupsi dana bansos difabel di dalam lingkungan Kementrian Sosial.
Baca Juga:Rachland Nashidik: Korupsi Bansos Melanggar Pancasila
Hal itu lantas ditanggapi oleh Rocky Gerung, ia menyebut kerakusan partailah yang menyebabkan oknum-oknum itu mengabaikan seluruh pesan rakyat, bahkan pesan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDIP.
"Kerakusan partai itulah yang menyebabkan si tokoh partai yang disebut oknum itu mengabaikan seluruh pesan rakyat bahkan pesan kampanye atau bahkan pesan ibu Mega dalam pidato 'jangan sekali-kali mengambil uang rakyat'. Jadi buat apa partai itu hidup dengan retorika jangan mengambil uang rakyat," imbuhnya.
Rocky Gerung menjelaskan, harusnya seluruh masyarakat selalu ingat bahwa ekonomi politik korupsi berdasarkan kekuasaan dan kekuatan partai.
"Tapi selalu kita mengingatkan bahwa the political economy of corruption itu berbasis pada surplus kekuasaan partai. Jadi kalau partai berkuasa di eksekutif di legistatif berkuasa, dia pasti korupsi. Itu yang diingatkan Lord Acton: power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely. PDIP punya power, maka potensi dia untuk korupsi betul-betul jangan diabaikan sudah terjadi itu," tuturnya.
Rocky Gerung turut menceritakan kisah sejumlah tokoh yang hidup penuh kesederhanaan dan membekas dalam sejarah. Hal itu karena ia ingin menunjukkan dan membandingkan, bahwa harusnya pejabat pemerintahan dapat hidup dengan sederhana tanpa berpikir memakan dan mengambil uang rakyatnya.
Baca Juga:Soal Korupsi Bansos, Rachland: Curi Duit Wong Cilik Secara Gotong Royong
"Jadi pikiran-pikiran seperti itu ingin kita ingatkan bahwa ada Bung Karno yang hidup miskin, Bung Hatta yang mau beli sepatu dia mesti menabung dulu bertahun-tahun, Sutan Syahrir mati di penjara dalam keadaan miskin. Jadi seluruh founding person kita hidup dengan kesederhanaan," jelasnya.