facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Putri Bungsu Gus Dur dan Kaum LGBT Sepakat Isu Keberagaman Lebih Urgen daripada Keseragaman di Indonesia

Ruth Meliana Dwi Indriani | Evi Nur Afiah Jum'at, 20 Mei 2022 | 20:45 WIB

Putri Bungsu Gus Dur dan Kaum LGBT Sepakat Isu Keberagaman Lebih Urgen daripada Keseragaman di Indonesia
Putri bungsu mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid dalam diskusi peluncuran platform Rona di Gedung Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Kota bandung, Jumat (20/5/2022). [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

Perbedaan individu bisa meliputi berbagai bidang, seperti etnis, jenis kelamin, orientasi seksual, keyakinan agama, politik, dan ideologi lainnya.

BeritaHits.id - Indonesia berhasil mencapai kemerdekaan berkat para pahlawan yang berasal dari berbagai suku, budaya dan agama yang berbeda-beda. Berlatar belakang hal tersebut, isu keberagaman harus dirawat bersama-sama. 

Keberagaman di Indonesia adalah bagian dari identitas bangsa. Memahami keberagaman adalah kemampuan penting yang harus dimiliki setiap warga negara.

Keberagaman berarti memahami bahwa setiap individu memiliki keunikan masing-masing dan mengakui perbedaan individu lainnya.

Perbedaan individu bisa meliputi berbagai bidang, seperti etnis, jenis kelamin, orientasi seksual, keyakinan agama, politik, dan ideologi lainnya.

Baca Juga: Putri Gus Dur Berharap Platform Rona Jadi Ruang untuk Semua, Apa Pun Identitanya

Faktanya, masyarakat Indonesia banyak yang masih menutup mata akan hal tersebut. Perbedaan antara satu dengan yang lain justru menjadi ancaman karena tidak saling menghormati dan menghargai.

Pengalaman tentang perbedaan yang tidak seragam dengan kaum mayoritas Indonesia dirasakan oleh empat orang aktivis ini. 

Mereka adalah Inayah Wahid selaku pegiat Hak Asasi Manusia (HAM), Jennifer Odelia selaku Community, Rico Tude seorang Community, dan Maulidya selaku Manajer Kampanye Sejuk & Produser Podcast Rujuk. 

"Misalnya yang menimpa saya. Banyak orang memandang saya adalah orang jahat, menyimpang bahkan sadis karena saya adalah kaum LGBT," ujar Maulidya dalam acara peluncuran platform berita Rona lewat Zoom Meeting pada Jumat, (20/5/2022).

Maulidya menjelaskan, mereka yang memandang jika perbedaan dianggap sebuah kejahatan maka belum paham makna dari Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga: Catat, Ker..! 47 Cagar Budaya di Kota Malang Ini Sudah Ditetapkan Sebagai Warisan Sejarah

"Dari awal pembentukan negara ini, semboyan negara kita saja Bhineka Tunggal Ika. Tapi ternyata keberagaman tidak diterima dengan baik oleh kaum mayoritas. Lingkungan terdekat kita memang masih banyak yang menutup mata jadi semoga kita tidak lelah berjuang," ujarnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait